Program Pencegahan HIV Mengintervensi Sopir Truk

March 3, 2010 at 6:01 am Leave a comment

PEKERJA PELABUHAN BERISIKO TERINFEKSI HIV/AIDS


Kamis, 16 April 2009 @ 12:56:00

SEMARANG–bkkbn online : Para pekerja di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah (Jateng) dinyatakan berisiko terinfeksi HIV/AIDS. Anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar muat (TKBM), sopir dan kernet truk, teridentifikasi sebagai klien potensial wanita pekerja seks (WPS).

Hasil survei Lembaga Kalandara 2008, menyebutkan bahwa 19 persen dari 47 orang yang diperiksa, positif menderita infeksi menular seksual (IMS). “ABK, TKBM, sopir dan kernet truk berisiko tinggi. Karena pekerjaan mereka membutuhkan mobilitas tinggi dan jauh dari pasangan,” kata manajer Program ASA-Kalandara Muhammad Yusuf, SKM di Gedung Aula ADPEL Tanjung Emas, Semarang, Rabu (15/4).

ABK, TKBM, sopir dan kernet truk, menurut Yusuf, disebut komunitas ‘high risk man’ (laki-laki berisiko tinggi), atau 3 M (men mobile with money), jembatan utama antara WPS dengan masyarakat populasi umum. Mereka terinfeksi HIV lewat hubungan seks dengan WPS dan menularkannya ke istri dan anaknya. “Tak mengherankan kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga dan bayi meningkat luar biasa,” ujar Yusuf.

Data Kalandara Januari-Februari 2009 menunjukkan perilaku ABK yang berisiko menularkan  ke istri sebesar 34 persen, TKBM berisko menulatrkan ke istri sebesar 62 persen dan sopir truk menularkan ke istri sebesar 76 persen.

Yusuf menjelaskan, kelompok tersebut berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS karena enggan menggunakan kondom maupun pelicin. “Data per Februari 2009, kami mengambil 50 orang masing-masing dari ABK, TKBM, sopir dan kernet truk. Hasilnya, 58 persen dalam seminggu pasti berhubungan dengan WPS,” katanya.

Sementara itu Kantor Pelabuhan Semarang mencatat adanya 108 penderita penyakit kelamin sepanjang tahun 2008. Persentase jumlah penderita penyakit kelamin dari total kunjungan sebesar 0,23 persen.

“Dari jumlah tersebut, penderita yang terinfeksi HIV/AIDS masih belum ada alias nol. Meski jumlah penderita IMS kecil, tetapi tetap berisiko terinfeksi HIV/AIDS,” kata Kepala Seksi Upaya Kesehatan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dr. Hamidah.

Hamidah menjelaskan, penderita datang berobat ke 13 balai pengobatan yang terletak di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas dengan keluhan sakit saat kencing, kencing bernanah, susah buang air kecil dan alat vital terasa panas.

Ketua Koperasi TKBM Ramses Sihombing menyatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan Lembaga Kalandara selama tiga tahun untuk menekan laju penderita HIV/AIDS. Program yang diadakan antara lain penyediaan kondom gratis, pelatihan kader terlatih TKBM 9 kali sehari, dan penyediaan media informasi baca.(emon/nal)

March 3, 2010 at 5:50 am Leave a comment

Indonesia Gagal Cegah HIV

Thursday, 18 December 2008 Views : 1220 Published in : News, Opini Oleh : Rachman Iskandar KabarIndonesia, JAKARTA – Indonesia telah gagal dalam upaya pencegahan prevalensi HIV. Hal ini berdasarkan data yang menunjukkan perilaku berisiko tinggi dan prevalensi penyakit kelamin yang meningkat, serta pemakaian kondom secara konsisten sangat rendah di masyarakat. Demikian disampaikan oleh Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH di Depkes, Jakarta, baru-baru ini. “Apabila upaya pencegahan gagal, maka akan meningkatkan biaya untuk pengobatan. Diperkirakan anggaran pengobatan untuk HIV/AIDS tahun 2008 mencapai Rp 70 Milyar, sehingga upaya pencegahan penularan tetap menjadi prioritas,” ujarnya. Menurut Dr. Nafsiah, pencegahan penularan HIV dilakukan dengan merubah norma dan perilaku laki-laki, karena sebagian besar kelompok berisiko tinggi adalah laki-laki (waria, lelaki suka lelaki, lelaki pekerja seks). Selain itu, upaya juga difokuskan pada generasi muda yang berperilaku berisiko tinggi. Di tempat yang sama, dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTMH Direktur Penanggulangan Penyakit Menular Langsung sekaligus pelaksana tugas Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Depkes RI, menambahkan, kelompok pengguna Napza suntik (penasun) yang terinfeksi HIV dan berinteraksi dengan kelompok lainnya memberikan kontribusi terhadap peningkatan prevalensi HIV pada kelompok berisiko tinggi. Hasil Estimasi 2006 menunjukkan bahwa perkiraan jumlah Penasun saat itu adalah 219.000 orang, Wanita Pekerja Seks sebesar 221.000 orang dan pelanggan 3.160.000 orang. Apabila interaksi diantara kelompok berisiko tinggi dengan pelanggan yang merupakan “bridging population”, maka kemungkinan besar terjadi peningkatan prevalensi HIV baik di kelompok Risiko Tinggi maupun yang tidak berisiko tinggi (istri dari pelanggan seks komersial, pasangan penasun, bayi/anak pasangan terinfeksi HIV dll). Angka prevalensi HIV wanita penjaja seks (WPS) tertinggi terdapat di Papua 15,9%, berikutnya Bali 14,1%, Batam 12,,3%, Jawa Barat 11,6%, Jakarta 10,2%, Jawa Tengah 6,6%, Jawa Timur 6,5%, dan Medan 6,1%. WPS yang terkena infeksi menular seksual seperti klamidia, gonore dan sipilis memiliki risiko lebih besar untuk menularkan maupun tertular HIV. Di Jakarta (60%) dan Jawa Timur (36%) WPS telah terinfkesi setidaknya satu dari ketiga IMS tersebut, jelas dr. Tjandra. Kelompok pria berisiko tinggi (dilihat dari segi pekerjaan) seperti tukang ojek, supir truk, pelaut, dan pekerja pelabuhan, sebagian besar statusnya menikah (80%) dan mempunyai banyak pasangan seks. Prevalensi HIV tertinggi terdapat di Papua (3% pada pekerja pelabuhan) dan (1% tukang ojek). Sedangkan di luar Papua (0,5% anak buah kapal) dan (0,2% supir truk) terinfeksi HIV. Prevalensi klamidia dan gonore sangat tinggi di wilayah Papua, sedangkan sipilis prevalensinya sangat tinggi di semua wilayah. Dr. Tjandra Yoga menambahkan, berdasarkan hasil estimasi tahun 2006, jumlah waria di Indonesia sekitar 20.960 hingga 35.300. Angka prevalensi HIV pada waria sangat tinggi di Jakarta (34%), Surabaya (25,2%) dan Bandung (14%). Prevalensi IMS sangat tinggi di wilayah Bandung, gonore 37,4%, klamidia 34,5%, sipilis (25,2%), Surabaya (33,7%) klamidia, (28,8%) sifilis, (19,8%) gonore, sedangkan di Jakarta (29,8%) gonore, 25,2% sipilis, 22,7% klamidia. Kelompok pengguna napza suntik (penasun) merupakan kelompok yang sangat berisiko penularan HIV karena perilaku penggunaan jarum suntik secara bergantian. Angka prevalensi HIV pada penasun cukup tinggi di Surabaya (56%), Medan (56%), Jakarta (55%), dan Bandung (43%). Prevalensi IMS sangat tinggi di Jakarta (6,0%) klamidia, (1,3%) gonore, (0,8%) sifilis, disusul Surabaya (5,7%) klamidia, (1,2%) gonore, (1,6%) sifilis, sedangkan di Medan (5,3%) klamidia dan (2,4%) sifilis. Sedangkan kelompok LSL (laki-laki suka laki), prevalensi HIV tertinggi di Jakarta (8,1%), Surabaya (5,6%), dan Bandung (2,0%). Untuk prevalensi IMS terbagi menjadi IMS rektal dan urethra. IMS rektal tertinggi di Surabaya (33,6%), Jakarta (33,2%) dan Bandung (29,3%) sedangkan IMS urethra tertinggi di Jakarta (8,4%), Surabaya (5,2%) dan Bandung (5,2%). (Sumber : DEPKES RI) Penulis: Rachman Iskandar Last update : Thursday, 18 December 2008

March 3, 2010 at 5:47 am Leave a comment

Program Pencegahan HIV Pada Pria berisiko Tinggi Intervensi ke Sopir Truk

: HIV/AIDS
Gagasan:

Dipublikasi pada Wednesday, 17 June 2009 oleh administrator

Oleh: Henri Puteranto, penulis adalah penggiat di isu HIV dan AIDS, anggota Lingkar Diskusi Perubahan Perilaku

Pendahuluan

Data Survielan Terpadu Biologis Perilaku HIV/IMS (STBP) tahun 2007 oleh Depkes dan BPS menunjuk tingginya kasus infeksi menular seksual (IMS) di kalangan sopir truk. Sopir truk menjadi kelompok yang paling rentan dibanding dengan kelompok pekerjaan lain terhadap bahaya HIV dan AIDS. Situasi ini pernah ditulis menjadi bahan penelitian yang mengenai prilaku seksual oleh Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan bersama Ford Foundation pada tahun 1999. Penelitian tersebut mengungkapkan kerentanan perilaku seksual para sopir truk selama mengendarai truknya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa sopir truk menjadi kelompok pekerja yang paling rentan, kategori sopir truk mana yang mempunyai perilaku rentan terhadap penularan penyakit ini, serta respon seperti apa yang perlu dilakukan.

Bekerja dalam Bayang-bayang Kerentanan

Bekerja adalah konsekuensi dari hidup, tidak dipungkiri menjadi salah satu alasan sekian banyak orang untuk mencari rejeki. Sebagai sopir truk, konsekuensi adalah harus melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan dari ujung timur Jawa sampai Jakarta. Perjalanan ini dilakukan secara teratur dan melewati area 3 provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat dan masuk ke DKI Jakarta. Bila akan membayangkan jumlah truk yang melakukan perjalanan, data dari Yayasan Fatayat NU di Batang yang bekerja untuk kelompok sopir truk di area Batang, Jawa tengah, mencatat di tahun 2009 kurang lebih 200 truk tiap hari masuk ke lokasi pemberhentian di pangkalan truk Panundan dan Banyu Putih. Bisa dijumlahkan selama satu minggu berapa sopir truk yang beredar di jalur Batang, Tegal sampai Subang ini. Data lain menggambarkan bahwa puluhan truk juga mangkal di area lain di sepanjang Batang – Tegal, berhenti di warung-warung di sepanjang perjalanan mereka. Sekitar 30-50 warung makan dan tempat istirahat berjajar dan tiap warung berkisar 2-3 truk yang berhenti. Jumlah ini mengisyaratkan kelompok yang besar yang selalu melakukan perjalanan dari Jawa Timur menuju ke Jakarta dengan persinggahan di area Batang dan tegal.

Selain di Jawa tengah, tempat pemberhentian populer lainnya adalah di Subang Jawa Barat. Beberapa alasan yang muncul Subang menjadi alasan tempat pemberhentian utama adalah, truk akan segera masuk Jakarta, sehingga perlu istirahat lebih dulu supaya lebih segar dan siap masuk ke Jakarta setelah memakan waktu yang lama melakukan perjalanan. Data yang diperoleh dari Yayasan Resik, sebuah lembaga yang bekerja untuk sopir truk menyatakan terdapat 3 rumah makan besar yang menjadi tempat mangka sopir truk. Pengumpulan truk ini biasanya dikaitkan dengan asal truk atau group truk tersebut. Walau asal truk sama, yaitu dari Jawa Timur akan tetapi bisa berasal dari grup-group truk yang berbeda. Situasi disekitar tempat peristirahatan awak truk ini tidak dipungkiri juga membawa konsekuensi lain. Yaitu maraknya lokasi prostitusi yang dilakukan secara terang-terangan maupun dengan selubung lain. Tidak dipungkiri kelelahan dalam bekerja dengan tingkat stres yang tinggi butuh banyak hiburan dan relaksasi.

Di sepanjang tempat peristirahatan para awak truk ini terdapat wanita penjaja seksual (WPS) yang langsung maupun tidak langsung menawari transaksi seks kepada para awak truk ini. Permintaan dan penawaran sangat tinggi di area tersebut, sehingga isu perilaku seksual menjadi penting untuk disampaikan. Survei yang dilakukan oleh BPS dan Depkes pada kelompok ini ditahun 2007 mengeluarkan data bahwa 5% awak truk ini mengidap IMS. Data ini merupakan kelompok profesi pekerja yang paling tinggi tingkat IMSnya dari kategori pekerjaan yang lain seperti, tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan, anak buah kapal (ABK) dan lain-lain, khususnya untuk di pulau Jawa. Di sisi lain, tingkat prilaku seks aman dengan menggunakan kondom masih rendah di kalangan ini.

Mencari Peluang Intervensi di tengah Kesulitan Menjangkau

Melakukan penjangkauan kepada sopir truk, bukan sesuatu hal yang gampang. Mengingat karakteristik sopir truk yang selalu bergerak dari tempat satu ketempat lain. Peluang melakukan intervensi hanya bisa dilakukan ketika sopir truk berhenti di sebuah pangkalan truk di area perjalanan mereka. Kegiatan yang dilakukan untuk mendekati sopir truk juga melihat kepeminatan mereka terhadap jenis kegiatan sehingga tidak menimbulkan kebosanan di kalangan sopir truk. Pola penjangkauan yang interaktif dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk sopir truk perlu menjadi perhatian seksama dari lembaga yang akan melakukan kegiatan ini.

Data yang disampaikan oleh Yayasan Resik di Subang, Jawa Barat dan Fatayat NU di Batang, Jawa Tengah, bahwa model kegiatan edutainment –edukasi dengan hiburan- menjadi model kegiatan yang sangat diminati oleh awak truk. Kegiatan ini akan dibarengi dengan layanan IMS dan VCT (tes HIV secara sukarela) akan tetapi tidak serta merta langsung diadakan layanan khusus ini. Strateginya adalah dengan mengedepankan layanan pemeriksaan kesehatan umum, seperti tekanan darah, atau pengobatan ringan lainnya, kemudian menjalankan layanan pemeriksaan kepada sopir truk tersebut setelah mendapatkan berbagai hiburan, pesan kesehatan, dan kondom sebagai alat pengaman kegiatan seks. Setiap kegiatan ini bisa mengumpulkan sejumlah sopir truk, 50-100 sopir truk

Berbicara mendorong perubahan perilaku, akan sangat kecil kemungkinan terjadi bila kontak dengan sopir truk hanya sekali selama masa program. Sehingga perlu dipikirkan kontak berulang dengan menggunakan berbagai cara agar informasi dan pesan komunikasi untuk mendorong perubahan perilaku masuk kepada para sopir truk. Bila intensitas intervensi sudah sangat mendalam kepada sopir truk ini, perubahan perilaku yang diharapkan akan terjadi, yaitu penggunaan kondom ketika melakukan kegiatan seks berisiko, pergi ke klinik untuk memeriksakan kesehatan kelaminnya, sehingga penularan IMS bisa dikurangi serta HIV dan AIDS bisa dicegah.

March 3, 2010 at 5:42 am Leave a comment

Lika-liku Sopir Truk Antar-pulau

Embel-embel punya banyak istri, erat dengan prostitusi, hingga penyebar AIDS membuat profesi sopir truk dipandang miring. Polisi pun menjadikan mereka bulan-bulanan pungli di sepanjang jalan. Padahal tanpa jasa mereka, roda perekonomian antar pulau tak mungkin digerakkan.

Labuan Bajo amat ramai senja itu. Puluhan perahu nelayan memenuhi pelabuhan laut di ujung barat Pulau Flores itu. Sebuah kapal feri bersandar tak jauh dari situ. Ragu melihat lengangnya loket pembelian tiket, saya mendekati petugas. “Ada feri ke Sape hari ini nggak Pak?” tanya saya. “Oo ada, nanti jam 7 malam berangkat,” jawabnya singkat. Tanpa berpikir panjang saya segera membeli tiket, lalu bersiap-siap keluar dari penginapan yang baru saya pesan beberapa jam lalu. Tak apa, saya harus berpacu dengan waktu untuk menuntaskan perjalanan yang melelahkan ini.

Hanya sekilas petugas pelabuhan melirik tiket saya, lalu membiarkan saya berjalan menuju feri. Setelah melalui deretan lelaki yang duduk di pagar besi pembatas laut dan dermaga, belasan truk-truk raksasa, dan beberapa anak penjaja mutiara, saya masuk ke feri. Feri nampak longgar. Rupanya tak banyak penumpang yang naik. Ombak memang sedang tinggi-tingginya. Tapi bagian dasar kapal hampir penuh oleh truk dan mobil.
Antrian truk di Labuhan Bajo – MI/Palce Amalo

Antrian truk di Labuhan Bajo – MI/Palce Amalo

Malam itu saya berkenalan dengan Stephen dan Karel. Yang satu kernet truk Kawi Indah, yang lainnya mantan pemburu paus di kepulauan Alor dan Solor. Karel asyik mengisahkan petualangannya berburu paus hingga tertangkap polisi perairan Australia, sedang Stephen yang bersarung motif Maumere cuma jadi pendengar. Feri sampai di Sape jam 3 pagi. Step menawari saya menumpang truknya sampai ke Bima. Saya menerimanya daripada kedinginan menunggu bus Sape-Bima yang baru tiba jam 7 pagi. Walau tampak pendiam, Pak Tua, panggilan akrab sopir Kawi Indah, amat ramah dan baik hati. Dia tak hanya mengantar saya sampai ke Bima, tapi hingga ke perbatasan Lombok Tengah dan Timur. Andai tak ada keperluan di Praya, saya bisa ikut mereka ke Surabaya, pulang ke rumah orangtua.

Jarang berkumpul keluarga

Truk Pak Tua melaju di jalan yang lengang. Selain kami, ternyata masih ada 4 truk lagi di belakang. Konvoi truk ini membelah pagi yang dingin, berjalan beriring. Baru 2 jam perjalanan, sebuah truk menyalip sambil menyalakan klakson, mengajak Pak Tua berhenti. “Ada apa?” tanya Pak Tua. “Truk si Poti bannya meletus,” teriak sopir truk sebelah. Setelah menghentikan truk, semua awak turun. Sebagian membantu temannya yang terkena musibah, sebagian lagi istirahat dan asyik mengobrol di pinggir jalan.

Rupanya ban meletus menjadi makanan kami sepanjang jalan. Dari truk yang satu ke truk lain, dari ban depan ke ban belakang. Tak kurang 2-3 kali ban sebuah truk meletus dalam semalam. Maklum, perjalanan memang panjang, puluhan ribu kilometer. Medan jalan pun berat, berliku, berbatu, rusak, atau aspal berpasir. Belum lagi beratnya beban yang dibawa, hingga 5-10 ton. Pantas kalau ban-ban truk ini cepat gundul. Truk-truk ini mengangkut hasil bumi dari flores seperti kopi, cengkeh, coklat, pisang, dan vanili. Tujuannya beragam. Ada yang ke Denpasar, Surabaya, dan Jakarta. Seperti Pak Tua yang mengangkut coklat menuju Surabaya.

“Sudah puluhan tahun saya jadi sopir truk antar pulau,” kisah Pak Tua membuka percakapan. Saking asyik dengan pekerjaannya, lelaki asal Maumere ini pernah tak sempat pulang ke rumah. “Waktu itu saya baru pulang dari Surabaya mengantar vanili. Begitu sampai di kantor, buru-buru bos menugaskan saya untuk membawa cengkeh ke Surabaya. Terpaksa saya pergi tanpa sempat pulang ke rumah. Untung istri saya tak marah,” tutur lelaki yang bekerja di jasa pengangkutan Kawi Indah ini.

Meskipun jarang bertemu keluarga, Pak Tua senang menjadi sopir truk. “Karena saya bisa membesarkan keempat anak saya, menikahkan mereka. Sekarang cucu saya banyak,” katanya. Jauh dari keluarga juga tak membuat Pak Tua melirik perempuan lain. ‘Kawin adat flores itu susahnya minta ampun, harus sediakan babi dan kuda untuk mahar. Masak istri semahal itu saya sia-siakan,” alasannya, yang diiyakan sesama awak truk.

Upah sopir truk seperti Pak Tua cukup besar. Sekali angkut barang ke Surabaya, dia dibekali uang jalan Rp 5-8 juta. Sebagian untuk pengeluaran seperti solar, tiket ferry, makan., dan dana darurat kalau-kalau ada kerusakan truk yang tak bisa diatasi sopir. Sisanya buat ongkos sopir truk dan kernet. Sayangnya uang jalan kerap terpangkas untuk membayar pungli petugas dan pak polisi. Pak Tua dan kernetnya masih menerima upah bulanan dari bos. “Yah.. pokoknya cukup untuk makan,” katanya tanpa mau menyebut jumlahnya.

Dipermainkan petugas

Pagi itu kami beristirahat di sebuah warung kecil pinggir jalan, beberapa km di luar kota Bima. Sarapan pagi itu cukup dengan kopi, indomie, dan roti kampung. Para awak nampak guyup dan akrab, saling bersenda gurau. Seperti saudara saja. Botol moke -semacam arak- dibagikan. “Untuk menambah tenaga,” kata Pak Tua. Beberapa awak truk memesan nasi ayam. “Perut saya tak kuat cuma diisi indomie,” kata Joni, sopir truk Alam Indah yang masih muda dan bujangan. Joni mengangkut dua penumpang lelaki dengan tujuan Banyuwangi. “Untuk teman ngobrol di jalan, agar nggak ngantuk,” alasannya.

Selesai sarapan, dua polisi bermotor menghampiri. Mereka tampak berdebat dengan Joni dan teman-temannya. “Biasa, pungli,” kata Pak Tua. Entah apa kesalahan mereka, dua polisi menarik sebuah truk Rp 50.000. Ongkos parkir pinggir jalan, alasan polisi. “Ini baru di Sumbawa. Nanti di Lombok, Bali, Jawa, kami mesti bayar lagi. Macam-macamlah alasannya. Terutama di daerah antara Banyuwangi-Jember, pungutannya luar biasa,” protes Joni dengan wajah tak puas.

Takut menjadi korban pungli berikutnya, kami segera melanjutkan perjalanan. Sekilas saya lihat bagian luar truk Pak Tua yang dipenuhi lukisan pemandangan alam. Gunung, pohon, dan gajah. “Bos saya mengecat semua truknya dengan pemandangan seperti ini. Biar gampang dikenali,” alasan Pak Tua. Sementara truk temannya dari jasa pengangkut Alam Indah dan Sinar dihiasi dengan gambar seronok plus tulisan ‘kenapa lihat-lihat’. Ada-ada saja.

Dibanding jalan-jalan di Flores yang rusak, berbatu dan penuh tikungan, jalan raya di Sumbawa beraspal halus dan lebar. Pak Tua pun menambah kecepatan. Kami melalui kebun-kebun pisang yang meranggas dimakan hama. Melihat saya terkantuk-kantuk, Step menyuruh saya tidur di ruang belakang, tepat di belakang tempat duduk sopir. Di sana memang ada ruang untuk berbaring, cukup empuk dan hangat. Tapi sulit bagi saya memejamkan mata.

Lagi-lagi kami dihadang pungli seusai menyebrangi selat Sumbawa menuju Lombok timur tengah malam. Kali ini oleh petugas jembatan penimbangan selepas dermaga Labuhan. Semua truk pengangkut beban dikenakan UU karantina dan harus membayar Rp 100 per kg beban yang dibawa. Hampir satu jam para sopir dan awak berdebat dengan petugas, karena mereka merasa barang yang dibawa bukan untuk diekspor sehingga tak perlu dikarantina. “Kita harus kompak melawan petugas yang sewenang-wenang. Ah.. negeri ini benar-benar korup,” teriak Joni seusai keluar dari kantor petugas, marah. Meski akhirnya diperbolehkan meneruskan perjalanan kembali, mereka harus mengeluarkan uang damai yang tak sedikit jumlahnya.

Tak Selalu Negatif

Semula saya ragu menumpang truk. Ingat cerita-cerita seram seorang teman yang melakukan survey truk jalur pantura Jawa. Katanya, sopir truk menjadi pelanggan setia pekerja seks, dan penular aktif penyakit kelamin dan HIV-AIDS. Mereka juga tak tahan melihat perempuan. Tapi yang saya hadapi kali ini sungguh berbeda. Mereka amat ramah, senang bercanda, sopan, dan murah hati. Pak Tua misalnya berkali-kali memberi tumpangan kepada perempuan dan anak-anak sepanjang perjalanan menuju Sumbawa. “Kasihan, kalau tunggu bus bisa lama,” katanya.

Sepintas saya lihat untaian rosario menjuntai di atas kaca setirnya. “Agar saya selalu ingat kepada Tuhan, dimana pun saya berada,” tambahnya. Apalagi, katanya, menjadi sopir truk bukan pekerjaan mudah. Berhari-hari duduk di belakang setir, membuat orang cepat bosan dan lelah. Sedikit saja kehilangan konsentrasi, bisa berakibat fatal. Karena itu sopir truk senang memberi tumpangan. Apalagi kalau yang diberi tumpangan senang bercerita.

Ketika kami beristirahat di sebuah rumah makan di Sumbawa Besar, para awak truk mempersilakan saya mandi duluan. Dan ketika tiba waktu makan malam, mereka berlomba-lomba menraktir saya makan. Ah.. malu rasanya diperlakukan ‘ladies first’ seperti itu. Namun mereka menolak untuk diambil fotonya. Malu, alasannya.

Malam itu, seusai pungli UU karantina, para awak truk nampak lesu. Pak Tua yang biasanya banyak senyum jadi berwajah muram dan serius. Dalam keremangan malam saya melihat gunungan muatan di truk depan dan belakang. “Apa nggak kapok dipermainkan petugas seperti itu, Pak? Kenapa nggak dilaporkan saja?” tanya saya akhirnya. Dia cuma tersenyum. “Orang cari makan macam-macam caranya. Mau yang aman ya seperti saya atau dengan memangsa sesama seperti mereka,” jawabnya singkat.

Tiba-tiba saya teringat wajah teman saya, Sebastian Mangur yang menjadi petani kopi dan cengkeh di Manggarai. Sebastian pernah mengeluh rendahnya harga jual kopi di desanya yang terpencil. Padahal di Jawa harga itu menjadi berlipat ganda. Sementara indomie, biskuit, dan sebotol aqua yang di Jawa kurang dari seribu lima ratus, di Flores menjadi 2-3 kali lipat. Mahal memang, melihat lika-liku pengangkutan barang ini. Tapi tanpa jasa Pak Tua dan rekan-rekannya, mana mungkin terjadi hubungan ekonomi mutualisme seperti ini.

“Mbak mau turun dimana?” tegur Pak Tua tiba-tiba. Tepat di depan kantor polisi, saya meloncat turun setelah menyelipkan uang rokok ke kantong Pak Tua. Dia hanya tersenyum tipis sambil berpesan agar saya berhat-hati. Lalu truknya menderu dalam kegelapan, meninggalkan saya yang lupa menanyakan nama aslinya. Untung saya mendapat kenang-kenangan sarung Maumere pemberian Steph dan teman-temannya, serta pesan mereka agar tak ragu-ragu mencari konvoi truk mereka jika berkunjung ke Flores lagi. Sungguh undangan persahabatan yang tulus.

14 Desember 2009 | 14:10
dari Kompasiane

March 3, 2010 at 5:38 am Leave a comment

Jelang Hari HIV/AIDS, Puluhan Waria dan Gay Turun ke Jalan

Banyuwangi – Puluhan aktivis, komunitas waria dan gay di Kota Banyuwangi menggelar aksi damai menjelang hari AIDS/HIV sedunia 1 Desember. Aksi yang dimulai dengan longmarch dari gedung DPRD Banyuwangi, Jalan Adi Sucipto menuju Simpang Lima menyerukan tolak diskriminasi terhadap HIV/AIDS (Odha).

“Odha juga manusia, butuh berpolitik butuh bersosialisasi, jangan diskriminasi mereka. Dengan menyandang Odha beban mereka sudah berat,” teriak Khoiron, aktivis LSM Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS) saat berorasi, Senin (30/11/2009).

Khoiron menyerukan warga agar tidak merasa takut bergaul dengan Odha. Pasalnya, selama ini terjadi salah informasi terkait media penularan virus HIV.

“Media penularan virus HIV bukan karena bersentuhan kulit, bukan karena hanya berteman dengan Odha, tapi HIV menular dengan melakukan hubungan seks bebas,” terang Khoiron lagi.

Aksi simpatik tersebut juga diwarnai aksi teatrikal menggambarkan diskriminasi terhadap ODHA. Tak ketinggalan, komunitas waria turut menyuarakan hal yang sama. Tak jarang aksi centil mereka mengundang tawa para pengendara yang kebetulan melintas.

“HIV berpotensi menular jika berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan. Jangan lupa kalau pakai kondom tambah lima ribu ya?,” canda Pegy Ashira seorang waria yang turut berorasi.

Massa pun membagikan selebaran ke pengendara yang melintas dan memasang stiker di tiap mobil.

Sementara penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Banyuwangi Januari hingga Oktober 2009, tercatat 508 kasus. Dan Banyuwangi menempati peringkat dua HIV/AIDS se Jawa Timur, setelah Kota Surabaya. Dari ratusan kasus, media penularan HIV terbanyak melalui hubungan seksual (seks bebas atau berganti-ganti pasangan).

Penggunaan narkoba suntik, juga berpengaruh dalam penyebaran HIV di Banyuwangi. Sisanya faktor turunan dari orang tua yang mengidap AIDS. Untuk masarakat diimbau agar menjauhi kedua faktor yang rentan menjadi media penyebaran virus mematikan tersebut.

“Banyuwangi menempati urutan ke 2 se Jawa Timur. Jawa Timur sendiri urutan ke 3 se Indonesia. Predikat ini sungguh memprihatinkan,” kata Khoiron

January 21, 2010 at 4:50 pm Leave a comment

Supir bus rentan terinfeksi HIV/AIDS

Ketua klinik VCT RSUP H Adam Malik Medan, Rahmad Nur Kurniawan, mengatakan, supir bus antar kota paling rentan terkena virus HIV/AIDS, karena sering singgah ke tempat prostitusi.

“Daerah-daerah yang merupakan sarangnya perempuan seks komersil (PSK) seperti dikawasan Bandar Baru ataupun tempat-tempat prostitusi lainnya baik di dalam wilayah Sumut maupun luar Sumut merupakan tempat yang sering disinggahi para supir bus tersebut,” ujarnya kepada Waspada Online, pagi ini.

Persinggahan ini, katanya, menjadi rentan karena kemudian ada interaksi, khususnya dengan sopir bus ataupun truk. Penularan bisa melalui hubungan seks.

Selain itu, tempat persinggahan juga menimbulkan terjadinya pergaulan dan pengaruh budaya luar. “Ini terbukti banyak kasus HIV/AIDS di Sumut karena melalui jarum suntik narkoba,” tutunya.

Tempat-tempat persinggahan tersebut merupakan salah satu faktor bersarangnya perkembangan virus HIV/AIDS. (dat06/wol-mdn)

Sumber: Waspada Online

January 21, 2010 at 4:47 pm Leave a comment

Older Posts


Categories

Total Pengunjung


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.