Indonesia Gagal Cegah HIV

March 3, 2010 at 5:47 am Leave a comment

Thursday, 18 December 2008 Views : 1220 Published in : News, Opini Oleh : Rachman Iskandar KabarIndonesia, JAKARTA – Indonesia telah gagal dalam upaya pencegahan prevalensi HIV. Hal ini berdasarkan data yang menunjukkan perilaku berisiko tinggi dan prevalensi penyakit kelamin yang meningkat, serta pemakaian kondom secara konsisten sangat rendah di masyarakat. Demikian disampaikan oleh Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH di Depkes, Jakarta, baru-baru ini. “Apabila upaya pencegahan gagal, maka akan meningkatkan biaya untuk pengobatan. Diperkirakan anggaran pengobatan untuk HIV/AIDS tahun 2008 mencapai Rp 70 Milyar, sehingga upaya pencegahan penularan tetap menjadi prioritas,” ujarnya. Menurut Dr. Nafsiah, pencegahan penularan HIV dilakukan dengan merubah norma dan perilaku laki-laki, karena sebagian besar kelompok berisiko tinggi adalah laki-laki (waria, lelaki suka lelaki, lelaki pekerja seks). Selain itu, upaya juga difokuskan pada generasi muda yang berperilaku berisiko tinggi. Di tempat yang sama, dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTMH Direktur Penanggulangan Penyakit Menular Langsung sekaligus pelaksana tugas Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Depkes RI, menambahkan, kelompok pengguna Napza suntik (penasun) yang terinfeksi HIV dan berinteraksi dengan kelompok lainnya memberikan kontribusi terhadap peningkatan prevalensi HIV pada kelompok berisiko tinggi. Hasil Estimasi 2006 menunjukkan bahwa perkiraan jumlah Penasun saat itu adalah 219.000 orang, Wanita Pekerja Seks sebesar 221.000 orang dan pelanggan 3.160.000 orang. Apabila interaksi diantara kelompok berisiko tinggi dengan pelanggan yang merupakan “bridging population”, maka kemungkinan besar terjadi peningkatan prevalensi HIV baik di kelompok Risiko Tinggi maupun yang tidak berisiko tinggi (istri dari pelanggan seks komersial, pasangan penasun, bayi/anak pasangan terinfeksi HIV dll). Angka prevalensi HIV wanita penjaja seks (WPS) tertinggi terdapat di Papua 15,9%, berikutnya Bali 14,1%, Batam 12,,3%, Jawa Barat 11,6%, Jakarta 10,2%, Jawa Tengah 6,6%, Jawa Timur 6,5%, dan Medan 6,1%. WPS yang terkena infeksi menular seksual seperti klamidia, gonore dan sipilis memiliki risiko lebih besar untuk menularkan maupun tertular HIV. Di Jakarta (60%) dan Jawa Timur (36%) WPS telah terinfkesi setidaknya satu dari ketiga IMS tersebut, jelas dr. Tjandra. Kelompok pria berisiko tinggi (dilihat dari segi pekerjaan) seperti tukang ojek, supir truk, pelaut, dan pekerja pelabuhan, sebagian besar statusnya menikah (80%) dan mempunyai banyak pasangan seks. Prevalensi HIV tertinggi terdapat di Papua (3% pada pekerja pelabuhan) dan (1% tukang ojek). Sedangkan di luar Papua (0,5% anak buah kapal) dan (0,2% supir truk) terinfeksi HIV. Prevalensi klamidia dan gonore sangat tinggi di wilayah Papua, sedangkan sipilis prevalensinya sangat tinggi di semua wilayah. Dr. Tjandra Yoga menambahkan, berdasarkan hasil estimasi tahun 2006, jumlah waria di Indonesia sekitar 20.960 hingga 35.300. Angka prevalensi HIV pada waria sangat tinggi di Jakarta (34%), Surabaya (25,2%) dan Bandung (14%). Prevalensi IMS sangat tinggi di wilayah Bandung, gonore 37,4%, klamidia 34,5%, sipilis (25,2%), Surabaya (33,7%) klamidia, (28,8%) sifilis, (19,8%) gonore, sedangkan di Jakarta (29,8%) gonore, 25,2% sipilis, 22,7% klamidia. Kelompok pengguna napza suntik (penasun) merupakan kelompok yang sangat berisiko penularan HIV karena perilaku penggunaan jarum suntik secara bergantian. Angka prevalensi HIV pada penasun cukup tinggi di Surabaya (56%), Medan (56%), Jakarta (55%), dan Bandung (43%). Prevalensi IMS sangat tinggi di Jakarta (6,0%) klamidia, (1,3%) gonore, (0,8%) sifilis, disusul Surabaya (5,7%) klamidia, (1,2%) gonore, (1,6%) sifilis, sedangkan di Medan (5,3%) klamidia dan (2,4%) sifilis. Sedangkan kelompok LSL (laki-laki suka laki), prevalensi HIV tertinggi di Jakarta (8,1%), Surabaya (5,6%), dan Bandung (2,0%). Untuk prevalensi IMS terbagi menjadi IMS rektal dan urethra. IMS rektal tertinggi di Surabaya (33,6%), Jakarta (33,2%) dan Bandung (29,3%) sedangkan IMS urethra tertinggi di Jakarta (8,4%), Surabaya (5,2%) dan Bandung (5,2%). (Sumber : DEPKES RI) Penulis: Rachman Iskandar Last update : Thursday, 18 December 2008

Entry filed under: IDU. Tags: .

Program Pencegahan HIV Pada Pria berisiko Tinggi Intervensi ke Sopir Truk PEKERJA PELABUHAN BERISIKO TERINFEKSI HIV/AIDS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Total Pengunjung


%d bloggers like this: