Program Pencegahan HIV Pada Pria berisiko Tinggi Intervensi ke Sopir Truk

March 3, 2010 at 5:42 am Leave a comment

: HIV/AIDS
Gagasan:

Dipublikasi pada Wednesday, 17 June 2009 oleh administrator

Oleh: Henri Puteranto, penulis adalah penggiat di isu HIV dan AIDS, anggota Lingkar Diskusi Perubahan Perilaku

Pendahuluan

Data Survielan Terpadu Biologis Perilaku HIV/IMS (STBP) tahun 2007 oleh Depkes dan BPS menunjuk tingginya kasus infeksi menular seksual (IMS) di kalangan sopir truk. Sopir truk menjadi kelompok yang paling rentan dibanding dengan kelompok pekerjaan lain terhadap bahaya HIV dan AIDS. Situasi ini pernah ditulis menjadi bahan penelitian yang mengenai prilaku seksual oleh Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan bersama Ford Foundation pada tahun 1999. Penelitian tersebut mengungkapkan kerentanan perilaku seksual para sopir truk selama mengendarai truknya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa sopir truk menjadi kelompok pekerja yang paling rentan, kategori sopir truk mana yang mempunyai perilaku rentan terhadap penularan penyakit ini, serta respon seperti apa yang perlu dilakukan.

Bekerja dalam Bayang-bayang Kerentanan

Bekerja adalah konsekuensi dari hidup, tidak dipungkiri menjadi salah satu alasan sekian banyak orang untuk mencari rejeki. Sebagai sopir truk, konsekuensi adalah harus melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan dari ujung timur Jawa sampai Jakarta. Perjalanan ini dilakukan secara teratur dan melewati area 3 provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat dan masuk ke DKI Jakarta. Bila akan membayangkan jumlah truk yang melakukan perjalanan, data dari Yayasan Fatayat NU di Batang yang bekerja untuk kelompok sopir truk di area Batang, Jawa tengah, mencatat di tahun 2009 kurang lebih 200 truk tiap hari masuk ke lokasi pemberhentian di pangkalan truk Panundan dan Banyu Putih. Bisa dijumlahkan selama satu minggu berapa sopir truk yang beredar di jalur Batang, Tegal sampai Subang ini. Data lain menggambarkan bahwa puluhan truk juga mangkal di area lain di sepanjang Batang – Tegal, berhenti di warung-warung di sepanjang perjalanan mereka. Sekitar 30-50 warung makan dan tempat istirahat berjajar dan tiap warung berkisar 2-3 truk yang berhenti. Jumlah ini mengisyaratkan kelompok yang besar yang selalu melakukan perjalanan dari Jawa Timur menuju ke Jakarta dengan persinggahan di area Batang dan tegal.

Selain di Jawa tengah, tempat pemberhentian populer lainnya adalah di Subang Jawa Barat. Beberapa alasan yang muncul Subang menjadi alasan tempat pemberhentian utama adalah, truk akan segera masuk Jakarta, sehingga perlu istirahat lebih dulu supaya lebih segar dan siap masuk ke Jakarta setelah memakan waktu yang lama melakukan perjalanan. Data yang diperoleh dari Yayasan Resik, sebuah lembaga yang bekerja untuk sopir truk menyatakan terdapat 3 rumah makan besar yang menjadi tempat mangka sopir truk. Pengumpulan truk ini biasanya dikaitkan dengan asal truk atau group truk tersebut. Walau asal truk sama, yaitu dari Jawa Timur akan tetapi bisa berasal dari grup-group truk yang berbeda. Situasi disekitar tempat peristirahatan awak truk ini tidak dipungkiri juga membawa konsekuensi lain. Yaitu maraknya lokasi prostitusi yang dilakukan secara terang-terangan maupun dengan selubung lain. Tidak dipungkiri kelelahan dalam bekerja dengan tingkat stres yang tinggi butuh banyak hiburan dan relaksasi.

Di sepanjang tempat peristirahatan para awak truk ini terdapat wanita penjaja seksual (WPS) yang langsung maupun tidak langsung menawari transaksi seks kepada para awak truk ini. Permintaan dan penawaran sangat tinggi di area tersebut, sehingga isu perilaku seksual menjadi penting untuk disampaikan. Survei yang dilakukan oleh BPS dan Depkes pada kelompok ini ditahun 2007 mengeluarkan data bahwa 5% awak truk ini mengidap IMS. Data ini merupakan kelompok profesi pekerja yang paling tinggi tingkat IMSnya dari kategori pekerjaan yang lain seperti, tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan, anak buah kapal (ABK) dan lain-lain, khususnya untuk di pulau Jawa. Di sisi lain, tingkat prilaku seks aman dengan menggunakan kondom masih rendah di kalangan ini.

Mencari Peluang Intervensi di tengah Kesulitan Menjangkau

Melakukan penjangkauan kepada sopir truk, bukan sesuatu hal yang gampang. Mengingat karakteristik sopir truk yang selalu bergerak dari tempat satu ketempat lain. Peluang melakukan intervensi hanya bisa dilakukan ketika sopir truk berhenti di sebuah pangkalan truk di area perjalanan mereka. Kegiatan yang dilakukan untuk mendekati sopir truk juga melihat kepeminatan mereka terhadap jenis kegiatan sehingga tidak menimbulkan kebosanan di kalangan sopir truk. Pola penjangkauan yang interaktif dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk sopir truk perlu menjadi perhatian seksama dari lembaga yang akan melakukan kegiatan ini.

Data yang disampaikan oleh Yayasan Resik di Subang, Jawa Barat dan Fatayat NU di Batang, Jawa Tengah, bahwa model kegiatan edutainment –edukasi dengan hiburan- menjadi model kegiatan yang sangat diminati oleh awak truk. Kegiatan ini akan dibarengi dengan layanan IMS dan VCT (tes HIV secara sukarela) akan tetapi tidak serta merta langsung diadakan layanan khusus ini. Strateginya adalah dengan mengedepankan layanan pemeriksaan kesehatan umum, seperti tekanan darah, atau pengobatan ringan lainnya, kemudian menjalankan layanan pemeriksaan kepada sopir truk tersebut setelah mendapatkan berbagai hiburan, pesan kesehatan, dan kondom sebagai alat pengaman kegiatan seks. Setiap kegiatan ini bisa mengumpulkan sejumlah sopir truk, 50-100 sopir truk

Berbicara mendorong perubahan perilaku, akan sangat kecil kemungkinan terjadi bila kontak dengan sopir truk hanya sekali selama masa program. Sehingga perlu dipikirkan kontak berulang dengan menggunakan berbagai cara agar informasi dan pesan komunikasi untuk mendorong perubahan perilaku masuk kepada para sopir truk. Bila intensitas intervensi sudah sangat mendalam kepada sopir truk ini, perubahan perilaku yang diharapkan akan terjadi, yaitu penggunaan kondom ketika melakukan kegiatan seks berisiko, pergi ke klinik untuk memeriksakan kesehatan kelaminnya, sehingga penularan IMS bisa dikurangi serta HIV dan AIDS bisa dicegah.

Entry filed under: HRM. Tags: .

Lika-liku Sopir Truk Antar-pulau Indonesia Gagal Cegah HIV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Total Pengunjung


%d bloggers like this: